UNCONDITIONAL LOVE

Posted by: Admin
Category: Life Oracle

By Fiona Wang

Dua kata, berjuta makna. Gampang diucapkan namun tidak banyak yang benar-benar paham maknanya. Banyak pula versi pengartiannya. Kalau nanya Wikipedia ia bilang itu cinta tanpa syarat atau kasih sayang tanpa batasan terkait alturistik, dan sering kali digambarkan sebagai cinta sejati jika terkait hubungan antar kekasih.

Saya sendiri, sangat suka versi Unconditional Love yang dipaparkan oleh Inna Segal, “This means loving people for who they are, not who we would like them to be.”

WOW! Indah banget. Bukankah menakjubkan dikelilingi orang-orang di mana Anda bisa menjadi diri Anda sesungguhnya, berbagi pikiran dan perasaan terdalam tanpa khawatir mereka akan berhenti mencintai Anda, sekalipun jika berbeda pendapat atau memiliki sudut pandang yang berbeda? Kalau sudah seperti ini, artinya kita sudah dapat berkomunikasi di tingkat hati dan jiwa.

Yang jelas Unconditional love (UL) membutuhkan kelembutan, memaafkan, dan kemampuan mencintai orang lain ‘no matter they behave.’ Dan sebaliknya UL memerlukan kebijakan, kesabaran, dan kedewasaan untuk menjadi diri sendiri, tanpa keinginan untuk sekedar menyenangkan orang lain, sambil di sisi lain juga mengijinkan orang lain untuk menjadi diri mereka sendiri. Dengan demikian kita memberi kesempatan kepada diri orang lain untuk bertumbuh dan berkembang.

Membebaskan diri dari pemaksaan ide, beliefs, dan harapan mereka menjadi seperti apa, justru akan membantu mereka untuk menemukan siapa diri mereka sesungguhnya.

Hello orangtua…. Kedengarannya mudah ga? Kan orangtua yang paling sering mengklaim bahwa cinta mereka pada anak-anaknya adalah cinta kasih tanpa pamrih? Sayangnya selama menjadi konselor banyak berjumpa yang sebaliknya. Orangtua bisa sangat murka karena anaknya tidak mau meneruskan bisnisnya malah mau menjadi seniman. Ada orangtua yang sampai hati mengusir anaknya karena memilih pasangan yang tidak direstuinya. Bahkan banyak keluar ultimatum, kalo tidak kuliah jurusan ini, lebih baik ga usah kuliah. Intinya harus agendanya yang tayang.

Beberapa kali saya pernah berjumpa dengan orangtua yang anaknya narkoba, yang anaknya dianggap penyimpangan seksual karena menyukai sesama jenis. Saya hanya mengingatkan tentang Unconditional Love ini yang sangat mereka butuhkan bukan judgement, sambil mencari solusi.

Karena seperti kata Bunda Teresa, kita tidak bisa menghakimi dan mengasihi seseorang sekaligus. Ketika sedang menghakimi kita sedang berhenti mencintai dan jika kita benar-benar mencintai maka tidak akan menghakimi.

Sebagai orangtua dapat mempraktekkan UL dalam hal-hal kecil seperti contoh berikut yang saya kutip dari artikel saya yang lain soal parenting. Berhentilah membuat seolah-olah, setiap perbuatan dan tingkah-laku mereka, ‘sayang’ Anda adalah rewardsnya dan ‘tidak sayang’ Anda adalah punishmentnya. Sering saya mendengar orangtua mengatakan, “ayo kamu begini donk, begitu donk, baru anak mama dan disayang mama.” Bawah sadar anak Anda mungkin menjerit, “hellowww.. jadi kalo aku ga juara, ga disayang gito?”

Atau Ada orangtua yang menempatkan anaknya harus berjuang keras untuk mendapatkan kasih sayangnya. “kalau kamu masih nakal, bukan anak papa, papa tidak sayang lagi sama kamu.” Betapa beratnya beban anak jika untuk setiap kesalahan mereka, kasih sayang orangtua adalah taruhannya.

Mungkin Anda bisa berkilah, “ah, mereka tau kok maksudnya ga begitu.” Nah, kalau bukan begitu maksudnya untuk apa Anda katakan? Pelajaran apakah yang sedang ditanamkan ke anak? Apalagi statements ini bisa disalahartikan bawah sadar sebagai hal yang sangat mendera batin mereka.

Ketika anak salah, beri tahu anak Anda bahwa Anda sedang tidak berkenan dengan perbuatan mereka tapi tekankan bahwa Anda tetap menyayangi mereka tanpa syarat. “Nak, kamu tahu kalo Mami selalu sayang kamu, dan mami akan semakin bangga padamu jika kamu bisa naik kelas dengan nilai memuaskan.” Atau. “Ayah menghukummu bukan karena ayah tidak sayang padamu. Namun supaya kamu belajar dari kecerobohan ini, ayah akan potong uang jajanmu seminggu untuk mengganti kaca jendela yang pecah. Lain kali kalau main bola, mainlah di lapangan dan lebih berhati-hati.” Dengan begitu, lagu ini bukan sekedar lagu, “hanya memberi.. tak harap kembali… bagai sang Surya menyinari dunia…”

Bagaimana dengan Unconditional Love kepada pasangan atau kekasih, mudahkah? Sungguh amat sangat tidak mudah karena cinta eros berada di tataran yang berbeda, ada keinginan untuk disenangkan, dituruti, diutamakan.

Membawa UL ke cinta Philautia atau cinta ke diri sendiri juga tidak mudah, buktinya banyak orang yang tidak mengijinkan dirinya menjadi diri sendiri malah memaksakan diri harus achieve ini dan itu dalam hidupnya.

Namun untungnya yang namanya tidak mudah tidak berarti tidak bisa. Mulai aja dulu seperti slogan yang sedang banyak tayang. Mulai aja dulu dari menerima dan mencintai diri sendiri dan orang lain apa adanya, bukan ada apanya. Unconditional Love bahkan dapat dipraktekkan menjadi ‘a way of life’.

Bukankah salah satu pengalaman terindah dalam hidup adalah diterima dan dicintai apa adanya, sebagai diri sejati kita. Tidak perlu berubah hanya untuk menyenangkan orang lain, berubahlah kalau dirimu merasa dengan berubah membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik dan dirimu happy karenanya. Let’s love Unconditionally, Happy Weekend. FW081218.

#SelfLove
#TranspersonalSelfMastery
#IntegraInsitute
#TheSecretOfLifeWellness
#ExperienceUnconditionalLove
#InspiredByInnaSegal

Author: Admin

Leave a Reply