DOA dan LOA - Integra Institute

DOA dan LOA

Posted by: Admin
Category: Uncategorized

Buku dan film ‘the secret’ menimbulkan kontroversi bagi sebagian orang yang berpendapat, jika semua yang dikatakan oleh ‘the secret’ itu benar, lalu dimana kita akan menempatkan Tuhan? Termasuk beberapa teman disekeliling saya.

Jika dengan mempraktekan LOA, semua keinginan kita bisa menjadi kenyataan, lalu di manakah peran Tuhan? Sejauh saya mempelajari LOA (Law of Attraction) dan dikaitkan dengan perspektif iman, saya memandang LOA sebagai tools yang dianugerahkan oleh Yang Kuasa untuk menggapai pencapaian-pencapaian yang lebih baik dalam hidup kita. Bukankah pengetahuan dan penemuan-penemuan baru seperti tabir yang tersingkap satu persatu seiring dengan perjalanan waktu?

Ketika Antonio Meucci menemukan telepon pertama kali th 1871(Abraham Bell th 1876), saat itu mungkin ia tidak menduga perkembangan telepon khususnya mobile phone akan secanggih hari ini. Karena memang perkembangan teknologi saat itu belum mendukung dan mungkin semua perangkat yang ada sekarang ini adalah beyond his imagination. Demikian juga perkembangan mind technology dan perkembangan spiritual, telah mengalami perubahan yang sangat menakjubkan.

Sering kali tulisan-tulisan mengenai LOA diawali dengan pertanyaan, “mengapa banyak orang berusaha dan bekerja keras tetapi tidak berhasil?” Dalam perspektif iman kerap kali pula orang bertanya,” mengapa banyak orang sering berdoa, memohon kepada Tuhan namun sepertinya doanya tidak dikabulkan?” *”berdoalah kepada Allah dan yakinlah doa kalian dikabulkan..” (Nabi Muhammad SAW) *”Apa pun yang kau mohon dalam doa dengan penuh kepercayaan, pasti akan dikabulkan-Nya” (Matius 21:22) Lalu mengapa ada orang rajin berdoa tetapi doanya tidak terjawab? Apakah memang ada orang yang ditakdirkan sukses dan ada yang tidak sekalipun sama-sama mempunyai background yang sama? Jawaban dari keduanya adalah, “apakah anda sudah meminta dengan benar?” Dalam hal ini saya melihat bagaimana LOA adalah the powerful way dalam membantu doa-doa kita untuk menjadi kenyataan. Suatu doa atau permohonan haruslah melibatkan Keyakinan, Kepercayaan, Belief, Iman bahwa apa yang diminta akan terkabul. Proses dari doa adalah diawali dari timbulnya keinginan atau harapan (fokus pada impian) kemudian kita MEMINTA atau memohon dalam doa. Kembali ke pertanyaan sebelumnya, “apakah anda sudah meminta dengan benar?” Bagaimana LOA bisa memfasilitasi DOA kita dan membuatnya menjadi meminta yang benar. Di sini saya tidak membahas mengenai content dari suatu doa.

Dalam LOA dikatakan, anda perlu merumuskan afirmasi untuk setiap keinginan, baik dalam bentuk lisan, maupun tulisan serta mempertegas afirmasi tersebut dengan mantap, konsisten dan penuh kepercayaan dan alam semesta akan mewujudkannya menjadi kenyataan. Saya menerjemahkannya di sini menjadi bahwa Tuhan akan mengabulkan keinginan kita tersebut. Ingat bahwa setiap butir permohonan kita dalam doa adalah suatu Afirmasi. Afirmasi yang dibuat haruslah bermakna positif dan menghindari kata-kata negatif. Dari pada berucap,”Tuhan, saya tidak ingin hidup miskin, kita bisa berucap,”Tuhan, terima kasih atas berkatmu sehingga saya bisa hidup berkecukupan.”

Bukankah doa yang kedua juga membuat hati lebih nyaman. Ingat pada saat kita berdoa dengan khusuk, sebenarnya kita masuk ke kondisi trance yang membuat ucapan doa menjadi bentuk afirmasi atau sugesti yang akan mengakar dipikiran bawah sadar kita. Pilihlah kalimat-kalimat positif dan penuh syukur dalam berdoa. Setelah meminta, tahap selanjutnya adalah PERCAYA atau Yakin, bahwa keinginan yang telah dirumuskan dalam afirmasi akan menjadi kenyataan. Apakah dengan berdoa menggunakan kalimat positif tersebut pasti doa kita dikabulkan? Bagian yang tidak kalah penting disini adalah KESELARASAN, baik keselarasan pikiran ataupun tindakan. Keselarasan tersebut akan mendatangkan KEPANTASAN. Apakah mungkin seseorang akan naik pangkat sekalipun dia berdoa atau membaca afirmasinya 3x sehari layaknya minum obat jika jauh di dalam hati kecilnya dia merasa tidak pantas. Ada mental block yang harus dipatahkan dulu disini supaya bisa timbul keselarasan pikiran. Keselarasan pikiran akan enhance aksi atau usaha yang mengarah untuk mewujukan keinginan tersebut. Keselarasan dan kepantasan dapat diawali dengan Rasa SYUKUR, dan diikuti dengan KePASRAHan. Syukur menimbulkan kelegaan dan perasaan bahagia. Syukur juga merupakan suatu bentuk komunikasi atau unggapan hati kita yang tulus kepada Tuhan. Pasrah disini adalah pasrah yang ‘benar’ dalam arti tidak melekat pada hasil, kita berusaha semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan, dan hasilnya kita serahkan kepada Tuhan. Kepasrahan penting dalam hal MENERIMA, yaitu menerima hasil dari usaha yang dilakukan, sebagai bentuk keyakinan kita kepada Tuhan dan sebagai bentuk kebijaksanaan yang menandakan bahwa Anda telah siap menerima apa yang telah dicita-citakan. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk Kita?

Oleh karena itu berdoa dan berusaha, tidak perlu merisaukan hasilnya, karena semakin anda merisaukan hasilnya, semakin sulit anda menerima hasil yang baik, karena kerisauan akan memberikan energi yang tidak harmonis kepada permohonan Anda. Banyak orang berdoa seperti membuat shoppinglist, meminta dan meminta. Berdoa seperti itu membuat pikiran terkonsentrasi pada sesuatu yang belum dimiliki, dan itu membuat getaran di hati cenderung negatif. Sementara berdoa dengan cara bersyukur membuat konsentrasi kita tercurah pada kecukupan dan pengharapan serta percaya Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi umatnya. Getaran yang ditimbulkan juga cenderung positif dan menjadi energi penarik bagi hal-hal yang kita inginkan. Bukankah luar biasa jika kita dapat memanfaatkan LOA untuk mendukung pencapaian doa kita?

Fiona Wang, karawaci; 22 Nov 2009

Author: Admin